Tampilkan postingan dengan label 4rticeL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 4rticeL. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Mei 2011

Mainstream pergerakan kemahasiswaaN

campuz_090909
 
gerakan kemahasiswaan merupakan segala bentuk kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa dengan tujuan untuk menjadikan tatanan  hidup lebih baik dan idealnya senantiasa membawa suara rakyat. sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwaDari era perjuangan kemerdekaan hingga memasuki babak reformsi, kelompok mahasiswa tak pernah alpa menjadi aktor utama. hampir seluruh perubaha di negeri ini berawal dari gerakan mahasiswa. gerakan yang merupakan ruh suci yang lahir dari panggilan kemuliaan fitrah intelektualitas. Mengemban misi luhur sebagai social control, dengan jangkauan hingga jauh dari sentrumnya, baik secara vertikal maupun horizontal. Ciri khas kaum muda yang melekat pada mahasiswa seperti dinamis, wawasan luas, mobilitas tinggi, fisik kuat, keterbukaan pemikiran dan idealisme yang mengkristal menjadi daya dorong bagi kelompok kecil di dalam masyarakat ini untuk menjadi agen social change. Maka tak heran jika sejak awal republik ini digagas, kelompok menengah inilah yang menjadi motor sekaligus katalisator. sayangnya hal itu cuma bagaikan kisah fiktif belaka, saat ini gerakan kemahasiswaan  semakin tidak mendapatkan simpatik dari rakyat, malahan mendapatkan hujatan dari berbagai kalangan masyarakat kita.adalah sebuah hal yang sangat ironis tentunya, hal ini sangat jauh berbedah dengan keadaan gerakan mahasiswa pada era orde lama maupun baru.
 *****
jika dahulu kala kita sering mendengarkan dongeng tentang kepahlawanan mahasiswa dimata rakyat tentang bagaimana angkatan 66 berhasil menggulingkan orde lama kemudian dilanjutkan oleh angkatan 74 yang melawan kebijakan liberasi (utang) rezim tentunya hal ini Soeharto kepada pemerintah Jepang yang selanjutnya dianjutkan oleh angakatan 98 merupakan kesuksesan terbesar dari mahasiswa menggulingkan rezim soeharto. tentunya buah dari perjuangan ini telah berhasil menelurkan tokoh-tokoh yang tersimpan abadi oleh sejarah. Sederet nama telah mengisi etalase 'kepahlawanan' di negeri nusantara, mengukir sejarah dan menata wajah negara kesatuan republik indonesia (NKRI). Mereka berasal dari kelompok mahasiswa hingga namanya menelusup ke hati masyarakat Indonesia bahkan dikenal dunia. Sebut saja misalnya M. Yamin, Sutan Syahrir, Douwes Dekker, Sutomo, Soe Hok Gie, Hariman Siregar hingga Fahri Hamzah ataupun Anas Urbaningrum. Mereka menemukan momentum kepahlawanan diantara ruang artikulasi intelektualitas dan heroisme.
*****
Keberhasilan para pendahulu tentu tak lepas dari pemahaman serta   kecerdasan kawan-kawan dalam membaca realitas, berkontribusi sesuai dengan kebutuhan zaman. Di masa perjuangan kemerdekaan misalnya, gerakan menyatukan jong-jong atau kelompok pemuda yang masih chauvinistik (kedaerahan) menjadi tugas utama untuk menggalang persatuan.Jika membaca sejarah gerakan mahasiswa masa lalu, maka satu simpulan simplistik bahwa gerakan mereka adalah gerakan terencana dan menyesuaikan dengan kebutuhan zaman. yang tapi saat ini malah menjadi musuh rakyat. menurutku hal ini disebabkan oleh karena   perjuangan kawan-kawan tidak memiliki maenstream yang sama lagi, malahan perjuangan kawan-kawan hari ini mirip dengan perjuangan rakyat pada masa sebelum era kemerekaan yang notabenya saat itu perjuangan masih bersifat sektoral, tentunya hal ini sangat bepengaruh terhadap bentuk dan maksud dari gerakan kemahasiswaan itu sendiri.
*****
terkait dengan realitas diatas tentunya kita mesti berbicara tentang  mainstream gerakan. secara sederhana mainstream gerakan kemahasiswaan merupakan keseragaman tujuan dari  suatu gerakan kemahasiswaan itu sendiri. kupikir hal ini merupakan hal yang sangat fundamental dan mesti didiskusikan oleh kita semua sebelum kita bergerak. berbicara tentang mainstream gerakan tentunya taka lepas  tentang identitas kemahasiswaan, dimana mahasiswa adalah predikat yang sangat istimewah. posisi istimewa yang kumaksud adalah klas mahasiswa yang berada diantara kaum borjuis dan proletar sehingga perubahan segalah bentuk tatanan hidup akan sangat jelas terlihat olehnya. tentunya karena keistimewaan itu pulalah makanya mahasiswa selain belajar juga memiliki fungsi-fungsi lain. beberapa fungsi dari mahasiswa adalah moral force, agent of change, social control, iron stock. secara gamblang  mahasiswa adalah orang yang terdaftar secara administratif pada suatu perguruan tinggi, diluar dari itu pengertian mahasiswa tergantung dari pemaknaan subyektif personal.
*****
simplenya mungkin gini, karena kita sudah tahu tentang identitas serta posisi kita sebagai seorang mahasiswa maka sudah sepatutnyalah kita harus mesti menjalankan peran dan fungsi kita sebagaimana mestinya. berangkat dari itu maka menurutku mainstream gerakan dari kawan-kawan harusnya adalah berjalan atas nama pengabdian, tidak lebih dan tidak kurang. perlu kita ingat bahwaDasar kebenaran mahasiswa adalah kebenaran yang bersumber pada hati nurani serta sikap moral yang luhur yang bersumber pada Ketuhanan dan kemanusiaan.   kupikir klo dibenak kita semua sudah spakat bahwa segala tindakan yang kita lakukan atas dasar tersebut  maka pastinya gerakan kita akan melahirkan bentuk aksi dan reaksi yang indah. bukan malah gerakan yang terkontaminasir oleh kepentingan-kepentingan politik penguasa yang membuat situasi negeri kita makin carut marut.



Rabu, 11 Mei 2011

Sejarah " MERAH PUTIH "


jika kita melihat deretan bendera merah putih yang dikibarkan hampir di setiap pelosok bangsa indonesia tiap tujubelasan mungkin dibenak kita tiba-tiba bertanya dalam hati bilang apa sebenarnya alasannya? kenapa merah putih?, kenapa bukan merah hitam,  nah ini mungkin beberapa alasan dan sejarah benderah itu. menurut beberapa referensi dan tentu saja kata om google  inimi beberapa alasannya. Warna merah dan putih mempunyai arti yang sangat dalam, sebab kedua warna tersebut tidak begitu saja dipilih dengan cuma–cuma, melainkan melalui proses sejarah yang begitu panjang dalam perkembangan Bangsa Indonesia.


1. Menurut sejarah, Bangsa Indonesia memasuki wilayah Nusantara ketika terjadi perpindahan orang-orang Austronesia sekitar 6000 tahun yang lalu datang ke Indonesia Timur dan Barat melalui tanah Semenanjung dan Philipina. Pada zaman itu manusia memiliki cara penghormatan atau pemujaan terhadap matahari dan bulan. Matahari dianggap sebagai lambang warna merah dan bulan sebagai lambang warna putih. Zaman itu disebut juga zaman Aditya Candra. Aditya berarti matahari dan Candra berarti bulan. Penghormatan dan pemujaan tidak saja di kawasan Nusantara, namun juga di seluruh Kepulauan Austronesia, di Samudra Hindia, dan Pasifik.

Sekitar 4000 tahun yang lalu terjadi perpindahan kedua, yaitu masuknya orang Indonesia kuno dari Asia Tenggara dan kemudian berbaur dengan pendatang yang terlebih dahulu masuk ke Nusantara. Perpaduan dan pembauran inilah yang kemudian melahirkan turunan yang sekarang kita kenal sebagai Bangsa Indonesia.

Pada Zaman itu ada kepercayaan yang memuliakan zat hidup atau zat kesaktian bagi setiap makhluk hidup yaitu getah-getih. Getah-getih yang menjiwai segala apa yang hidup sebagai sumbernya berwarna merah dan putih. Getah tumbuh-tumbuhan berwarna putih dan getih (dalam Bahasa Jawa/Sunda) berarti darah berwarna merah, yaitu zat yang memberikan hidup bagi tumbuh-tumbuhan, manusia, dan hewan. Demikian kepercayaan yang terdapat di Kepulauan Austronesia dan Asia Tenggara.

2. Pada permulaan masehi selama 2 abad, rakyat di Kepulauan Nusantara mempunyai kepandaian membuat ukiran dan pahatan dari kayu, batu, dan lainnya, yang kemudian ditambah dengan kepandaian mendapat pengaruh dari kebudayaan Dong Song dalam membuat alat-alat dari logam terutama dari perunggu dan besi. Salah satu hasil yang terkenal ialah pembuatan gendering besar dari perunggu yang disebut nekara dan tersebar hampir di seluruh Nusantara. Di Pulau Bali gendering ini disebut Nekara Bulan Pajeng yang disimpan dalam pura. Pada nekara tersebut diantaranya terdapat lukisan orang menari dengan hiasan bendera dan umbul-umbul dari bulu burung. Demikian juga di Gunung Kidul sebelah selatan Yogyakarta terdapat kuburan berupa waruga dengan lukisan bendera merah putih berkibar di belakang seorang perwira menunggang kerbau, seperti yang terdapat di kaki Gunung Dompu.

Sejak kapan bangsa-bangsa di dunia mulai memakai bendera sebagai identitas bangsanya? Berdasarkan catatan sejarah dapat dikemukakan bahwa awal mula orang menggunakan bendera dimulai dengan memakai lencana atau emblem, kemudian berkembang menjadi tanda untuk kelompok atau satuan dalam bentuk kulit atau kain yang dapat berkibar dan mudah dilihat dari jauh. Berdasarkan penelitian akan hasil-hasil benda kuno ada petunjuk bahwa Bangsa Mesir telah menggunakan bendera pada kapal-kapalnya, yaitu sebagai batas dari satu wilayah yang telah dikuasainya dan dicatat dalam daftar. Demikian juga Bangsa Cina di zaman kaisar Chou tahun 1122 sebelum masehi.

Bendera itu terikat pada tongkat dan bagian puncaknya terdapat ukiran atau totem, di bawah totem inilah diikatkan sepotong kain yang merupakan dekorasi. Bentuk semacam itu didapati pada kebudayaan kuno yang terdapat di sekitar Laut Tengah. Hal itu diperkuat juga dengan adanya istilah bendera yang terdapat dalam kitab Injil. Bendera bagi raja tampak sangat jelas, sebab pada puncak tiang terdapat sebuah symbol dari kekuasaan dan penguasaan suatu wilayah taklukannya. Ukiran totem yang terdapat pada puncak atau tiang mempunyai arti magis yang ada hubungnnya dengan dewa-dewa. Sifat pokok bendera terbawa hingga sekarang ini.

Pada abad XIX tentara napoleon I dan II juga menggunakan bendera dengan memakai lambang garuda di puncak tiang. Perlu diingat bahwa tidak semua bendera mempunyai arti dan ada hubungannya dengan religi. Bangsa Punisia dan Yunani menggunakan bendera sangat sederhana yaitu untuk kepentingan perang atau menunjukkan kehadiran raja atau opsir, dan juga pejabat tinggi negara. Bendera Yunani umumnya terdiri dari sebuah tiang dengan kayu salib atau lintang yang pada puncaknya terdapat bulatan. Dikenal juga perkataan vaxillum (kain segi empat yang pinggirnya berwarna ungu, merah, atau biru) digantung pada kayu silang di atas tombak atau lembing.

Ada lagi yang dinamakan labarum yang merupakan kain sutra bersulam benang emas dan biasanya khusus dipakai untuk Raja Bangsa Inggris menggunakan bendera sejak abad VIII. Sampai abad pertengahan terdapat bendera yang menarik perhatian yaitu bendera “gunfano” yang dipakai Bangsa Germania, terdiri dari kain bergambar lencana pada ujung tombak, dan dari sinilah lahir bendera Prancis yang bernama “fonfano”.

Bangsa Viking hampir sama dengan itu, tetapi bergambar naga atau burung, dikibarkan sebagai tanda menang atau kalah dalam suatu pertempuran yang sedang berlangsung. Mengenai lambang-lambang yang menyertai bendera banyak juga corak ragamnya, seperti Bangsa Rumania pernah memakai lambang burung dari logam, dan Jerman kemudian memakai lambang burung garuda, sementara Jerman memakai bendera yang bersulam gambar ular naga.

Tata cara pengibaran dan pemasangan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung, kibaran bendera putih sebagai tanda menyerah (dalam peperangan) dan sebagai tanda damai rupanya pada saat itu sudah dikenal dan etika ini sampai sekarang masih digunakan oleh beberapa Negara di dunia.

3. Pada abad VII di Nusantara ini terdapat beberapa kerajaan. Di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya yang pada hakikatnya baru merupakan kerajaan dengan kekuasaan terbatas, satu sama lainnya belum mempunyai kesatuan wilayah. Baru pada abad VIII terdapat kerajaan yang wilayahnya meliputi seluruh Nusantara yaitu Kerajaan Sriwijaya yang berlangsung sampai abad XII. Salah satu peninggalannya adalah Candi Borobudur , dibangun pada tahun 824 Masehi dan pada salah satu dindingnya terdapat “pataka” di atas lukisan dengan tiga orang pengawal membawa bendera merah putih sedang berkibar. Kata dwaja atau pataka sangat lazim digunakan dalam kitab jawa kuno atau kitab Ramayana. Gambar pataka yang terdapat pada Candi Borobuur, oleh seorang pelukis berkebangsaan Jerman dilukiskan dengan warna merah putih. Pada Candi Prambanan di Jawa Tengah juga terdapat lukisan Hanoman terbakar ekornya yang melambangkan warna merah (api) dan warna putih pada bulu badannya. Hanoman = kera berbulu putih. Hal tersebut sebagai peninggalan sejarah di abad X yang telah mengenal warna merah dan putih.

Prabu Erlangga, digambarkan sedang mengendarai burung besar, yaitu Burung Garuda yang juga dikenal sebagau burung merah putih. Denikian juga pada tahun 898 sampai 910 Raja Balitung yang berkuasa untuk pertama kalinya menyebut dirinya sebagai gelar Garuda Muka, maka sejak masa itu warna merah putih maupun lambang Garuda telah mendapat tempat di hati Rakyat Indonesia.

4. Kerajaan Singosari berdiri pada tahun 1222 sampai 1292 setelah Kerajaan Kediri, mengalami kemunduran. Raja Jayakatwang dari Kediri saat melakukan pemberontakan melawan Kerajaan Singosari di bawah tampuk kekuasaan Raja Kertanegara sudah menggunakan bendera merah – putih , tepatnya sekitar tahun 1292. Pada saat itu tentara Singosari sedang dikirim ke Semenanjung Melayu atau Pamelayu. Jayakatwang mengatur siasat mengirimkan tentaranya dengan mengibarkan panji – panji berwarna merah putih dan gamelan kearah selatan Gunung Kawi. Pasukan inilah yang kemudian berhadapan dengan Pasukan Singosari, padahal pasukan Singosari yang terbaik dipusatkan untuk menghadang musuh di sekitar Gunung Penanggungan. Kejadian tersebut ditulis dalam suatu piagam yang lebih dikenal dengan nama Piagam Butak. Butak adalah nama gunung tempat ditemukannya piagam tersebut terletak di sebelah selatan Kota Mojokerto. Pasukan Singosari dipimpin oleh R. Wijaya dan Ardaraja (anak Jayakatwang dan menantu Kertanegara). R. Wijaya memperoleh hadiah sebidang tanah di Desa Tarik, 12 km sebelah timur Mojokerto. Berkibarlah warna merah – putih sebagai bendera pada tahun 1292 dalam Piagam Butak yang kemudian dikenal dengan piagam merah – putih, namun masih terdapat salinannya. Pada buku Paraton ditulis tentang Runtuhnya Singosari serta mulai dibukanya Kerajaan Majapahit dan pada zaman itu pula terjadinya perpaduan antara Ciwaisme dengan Budhisme.

5. Demikian perkembangan selanjutnya pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, menunjukkan bahwa putri Dara Jingga dan Dara Perak yang dibawa oleh tentara Pamelayu juga mangandung unsur warna merah dan putih (jingga=merah, dan perak=putih). Tempat raja Hayam Wuruk bersemayam, pada waktu itu keratonnya juga disebut sebagai keraton merah – putih, sebab tembok yang melingkari kerajaan itu terdiri dari batu bata merah dan lantainya diplester warna putih. Empu Prapanca pengarang buku Negarakertagama menceritakan tentang digunakannya warna merah – putih pada upacara kebesaran Raja Hayam Wuruk. Kereta pembesar – pembesar yang menghadiri pesta, banyak dihiasi merah – putih, seperti yang dikendarai oleh Putri raja Lasem. Kereta putri Daha digambari buah maja warna merah dengan dasar putih, maka dapat disimpulkan bahwa zaman Majapahit warna merah – putih sudah merupakan warna yang dianggap mulia dan diagungkan. Salah satu peninggalan Majapahit adalah cincin warna merah putih yang menurut ceritanya sabagai penghubung antara Majapahit dengan Mataram sebagai kelanjutan. Dalam Keraton Solo terdapat panji – panji peninggalan Kyai Ageng Tarub turunan Raja Brawijaya yaitu Raja Majapahit terakhir. Panji – panji tersebut berdasar kain putih dan bertuliskan arab jawa yang digaris atasnya warna merah. Hasil penelitian panitia kepujanggaan Yogyakarta berkesimpulan antara lain nama bendera itu adalah Gula Kelapa . dilihat dari warna merah dan putih. Gula warna merah artinya berani, dan kelapa warna putih artinya suci.

6. Di Sumatra Barat menurut sebuah tambo yang telah turun temurun hingga sekarang ini masih sering dikibarkan bendera dengan tiga warna, yaitu hitam mewakili golongan penghulu atau penjaga adat, kuning mewakili golongan alim ulama, sedangkan merah mewakili golongan hulu baling. Ketiga warna itu sebenarnya merupakan peninggalan Kerajaan Minang pada abad XIV yaitu Raja Adityawarman. Juga di Sulawesi di daerah Bone dan Sopeng dahulu dikenal Woromporang yang berwarna putih disertai dua umbul – umbul di kiri dan kanannya. Bendera tersebut tidak hanya berkibar di daratan, tetapi juga di samudera , di atas tiang armada Bugis yang terkenal. Bagi masyarakat Batak terdapat kebudayaan memakai ulos semacam kain yang khusus ditenun dengan motif tersendiri. Nenek moyang orang Batak menganggap ulos sebgai lambang yang akan mendatangkan kesejahteraan jasmani dan rohani serta membawa arti khusus bagi yang menggunakannya. Dalam aliran animisme Batak dikenal dengan kepercayaan monotheisme yang bersifat primitive, bahwa kosmos merupakan kesatuan tritunggal, yaitu benua atas dilambangkan dengan warna merah dan benua bawah dilambangkan dengan warna hitam. Warna warna ketiga itu banyak kita jumpai pada barang-barang yang suci atau pada hiasan-hiasan rumah adat. Demikian pula pada ulos terdapat warna dasar yang tiga tadi yaitu hitam sebagai warna dasar sedangkan merah dan putihnya sebagai motif atau hiasannya. Di beberapa daerah di Nusantara ini terdapat kebiasaan yang hampir sama yaitu kebiasaan memakai selendang sebagai pelengkap pakaian kaum wanita. Ada kalanya pemakaian selendang itu ditentukan pemakaiannya pada setiap ada upacara – upacara, dan sebagian besar dari moti-motifnya berwarna merah dan putih.

7. Ketika terjadi perang Diponegoro pada tahun 1825-1830 di tengah – tengah pasukan Diponegoro yang beribu – ribu juga terlihat kibaran bendera merah – putih, demikian juga di lereng – lereng gunung dan desa - desa yang dikuasai Pangeran Diponegoro banyak terlihat kibaran bendera merah - putih. Ibarat gelombang samudera yang tak kunjung reda perjuangan Rakyat Indonesia sejak zaman Sriwijaya, Majapahit, putra – putra Indonesia yang dipimpin Sultan Agung dari Mataram, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, Sultan Hasanudin, Sisingamangaraja, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Pangeran Antasari, Pattimura, Diponegoro dan banyak lagi putra Indonesia yang berjuang untuk mempertahankan kedaulatan bangsa, sekalipun pihak penjajah dan kekuatan asing lainnya berusaha menindasnya, namun semangat kebangsaan tidak terpadamkan.

Pada abad XX perjuangan Bangsa Indonesia makin terarah dan menyadari akan adanya persatuan dan kesatuan perjuangan menentang kekuatan asing, kesadaran berbangsa dan bernegara mulai menyatu dengan timbulnya gerakan kebangsaan Budi Utomo pada 1908 sebagai salah satu tonggak sejarah.

Kemudian pada tahun 1922 di Yogyakarta berdiri sebuah perguruan nasional Taman Siswa dibawah pimpinan Suwardi Suryaningrat. Perguruan itu telah mengibarkan bendera merah putih dengan latar dasar warna hijau yang tercantum dalam salah satu lagu antara lain : Dari Barat Sampai ke Timur, Pulau-pulau Indonesia, Nama Kamu Sangatlah Mashur Dilingkungi Merah-putih. Itulah makna bendera yang dikibarkan Perguruan Taman Siswa.

Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang – pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.

Para mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia yang berada di Negeri Belanda pada 1922 juga telah mengibarkan bendera merah – putih yang di tengahnya bergambar kepala kerbau, pada kulit buku yang berjudul Indonesia Merdeka. Buku ini membawa pengaruh bangkitnya semangat kebangsaan untuk mencapai Indonesia Merdeka.

Demikian seterusnya pada tahun 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia dibawah pimpinan Ir. Soekarno yang bertujuan mencapai kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia. Partai tersebut mengibarkan bendera merah putih yang di tengahnya bergambar banteng.

Kongres Pemuda pada tahun 1928 merupakan detik yang sangat bersejarah dengan lahirnya “Sumpah Pemuda”. Satu keputusan sejarah yang sangat berani dan tepat, karena kekuatan penjajah pada waktu itu selalu menindas segala kegiatan yang bersifat kebangsaan. Sumpah Pemuda tersebut adalah tidak lain merupakan tekad untuk bersatu, karena persatuan Indonesia merupakan pendorong ke arah tercapainya kemerdekaan. Semangat persatuan tergambar jelas dalam “Poetoesan Congres Pemoeda – Pemoeda Indonesia” yang berbunyi :

Pertama : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE

       BERTOEMPAH DARAH YANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :  KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE

       BERBANGSA YANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :  KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA

      MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA

      INDONESIA

Pada kongres tersebut untuk pertama kalinya digunakan hiasan merah – putih tanpa gambar atau tulisan, sebagai warna bendera kebangsaan dan untuk pertama kalinya pula diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Pada saat kongres pemuda berlangsung, suasana merah – putih telah berkibar di dada peserta, yang dibuktikan dengan panitia kongres mengenakan “kokarde” (semacam tanda panitia) dengan warna merah putih yang dipasang di dada kiri. Demikian juga pada anggota padvinder atau pandu yang ikut aktif dalam kongres menggunakan dasi berwarna merah – putih. Kegiatan pandu, suatu organisasi kepanduan yang bersifat nasional dan menunjukkan identitas kebangsaan dengan menggunakan dasi dan bendera merah – putih.

Perlu disadari bahwa Polisi Belanda (PID) termasuk Van der Plass tokohnya sangat ketat memperhatikan gerak – gerik peserta kongres, sehingga panitia sangat berhati-hati serta membatasi diri demi kelangsungan kongres. Suasana merah putih yang dibuat para pandu menyebabkan pemerintah penjajah melarang dilangsungkannya pawai pandu, khawatir pawai bisa berubah menjadi semacam penggalangan kekuatan massa.

Pengibaran Bendera Merah-putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dilarang pada masa pendudukan Jepang, karena ia mengetahui pasti bahwa hal tersebut dapat membangkitkan semangat kebangsaan yang nantinya menuju pada kemerdekaan. Kemudian pada tahun 1944 lagu Indonesia Raya dan Bendera Merah-putih diizinkan untuk berkibar lagi setelah kedudukan Jepang terdesak. Bahkan pada waktu itu pula dibentuk panitia yang bertugas menyelidiki lagu kebangsaan serta arti dan ukuran bendera merah-putih.

Detik-detik yang sangat bersejarah adalah lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Setelah pembacaan teks proklamasi, baru dikibarkan bendera merah-putih, yang kemudian disahkan pada 18 Agustus 1945. Bendera yang dikibarkan tersebut kemudian ditetapkan dengan nama Sang Saka Merah Putih.

Kemudian pada 29 September 1950 berkibarlah Sang Merah Putih di depan Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Bangsa Indonesia oleh badan dunia.

Bendera merah-putih mempunyai persamaan dengan bendera Kerajaan Monako, yaitu sebuah Negara kecil di bagian selatan Prancis, tapi masih ada perbedaannya. Bendera Kerajaan Monako di bagian tengah terdapat lambang kerajaan dan ukurannya dengan perbandingan 2,5 : 3, sedangkan bendera merah putih dengan perbandingan 2 : 3 (lebar 2 meter, panjang 3 meter) sesuai Peraturan Pemerintah No. 40 tahun 1958. Kerajaan Monako menggunakan bendera bukan sebagai lambang tertinggi karena merupakan sebuah kerajaan, sedangkan bagi Indonesia bendera merah putih merupakan lambang tertinggi.

Senin, 02 Mei 2011

Peraturan Pemerintah no. 66. 2010

Dalam rangka menyambut hari pendidikan nasional 2 mei akhir akhir ini selalu ada sms masuk dengan nomor tidak dikenali maklum lah bawaan hp butut mungkin karenan nda compatible kayaknya, tapi bukan jie itu yang akan jadi topic kita kali ini (santai coy), cek dan ricek ternyata ini sms yang biasa saya golongkan kegolongan kawan2. Salah satu isi smsnya bunyinya kuramg lebih seperti ini “slm, kawan2 belajar,belajar,belajar..belakangan banyak sekali varian dan ragam privatisasi ruang public..bahkan sampai kewilayah pendidikan..gaung reinkarnasi BHP pun muncul dengan rupa pp66..bagaimana sebenarnya pp66?untuk mengetahuinya diharapkan kawan2  dtng di diskusik pp66 diharapkan merapat ke ,@bawah perpus pusat uH,pukul ..:.. dengan pemateri : pr3,UVRI, dst…senantiasa belajar dan bergerak..” yah two tumbz serta apresiasi yang tinggi saya berikan untuk kawan2 yang senantiasa belajar dan masih mau menjalankan salah satu fungsi dari mahasiswa dalam hal ini terkait agent of change dst..langkah yang sudah semestinya pikirku dalam merespon Pemerintah yang Telah menelurkan PP No 66 Tahun 2010, dimana isi dari peraturan pemerintah mengenai kebijaksanaan di universitas atau perguruan tinggi negri di tanah air tersebut resmi di keluarkan oleh pemerintah, Peraturan Pemerintah baru nomor 66 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaran Pendidikan. Dalam aturan yang baru diteken oleh bapak persiden kita yang senantiasa tercitrakan Susilo Bambang Yudhoyono, 28 September
Dalam peraturan tersebut juga diatur mengenai porsi Penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi negeri melalui seleksi secara nasional seperti SNMPTN. "Sebanyak 60 persen rekrutmen mahasiswa baru itu dari seleksi secara nasional. Ini untuk menjadikan PT memiliki akses yang lebih luas selain itu Pertama, ke-7 PT BHMN berubah menjadi PTN dan diberi masa transisi 3 tahun terhitung 28 September 2010 termasuk pengalihan status kepegawaian dosen dan tenaga kependidikan (220A). Kedua, penetapan penerapan pola pengolaan keuangan BLU untuk ke-7 PT BHMN (220B). Ketiga, kekayaan awal PT BHMN yang sudah sempat dipisahkan dialihkan kembali ke negara/menteri (220C). Keempat, PP tentang penetapan ke 8 PTN ( 7 PT BHMN + Universitas Pertahanan) menjadi BHMN tidak dicabut atau tetap berlaku semua, terkecuali tata kelola keuangan ( 220H-I ). Setidaknya empat bagian itulah yang mengatur secara khusus PT BHMN, termasuk UPI di dalamnya.
Terkait dengan otonomi perguruan tinggi, PP 66/2010, seperti termaktub dalam Pasal 58F, memberikan keleluasaan kepada setiap perguruan tinggi dalam pengelolaan bidang manajemen organisasi, bidang akademik, bidang kemahasiswaan, bidang sumber daya manusia, dan bidang sarana dan prasarana. Nampaknya, keleluasaan tersebut wajar dimengerti sebagai peluang dan juga dipahami sebagai tantangan untuk berbuat lebih banyak dalam upaya mewujudkan visi dan misi lembaga khususnya dan visi serta misi pendidikan nasional umumnya. Aturan yang dibuat tersebut bukan sebuah upaya untuk membatasi gerak langkah perguruan tinggi, sebab kalau kita telisik secara saksama, keluasan otonomi itu memberikan ruang bagi kita untuk bergerak lebih cepat sesuai dengan potensi kita masing-masing. Akan tetapi dari beberapa poin yang disampaikan diatas menurutku ada hal-hal Yang harus jadi pertimbangan kita antara lain yaitu:
pertimbangan rangkaian penetrasi kepentingan asing secara sistematis dimulai dengan ratifikasi kesepakatan wto/gats ? (general agreement on tarrifs and services), melalui uu no 7 1994 yang memasukkan layanan pendidikan sebagai komoditas perdagangan yang bebasa sesuai dengan hokum pasar bebas . hal semakin didukung dengan uu no. 25 tahun 2007 tentang penanaman modal yang semakin jelas dengan peraturan pemerintah no 66 tahun 2010.
Peraturan pemerintah mereduksi potensi dan mengabaikan ideology pendidikan nasional . liberesasi pendidikan dengan berbagi fasilitas pendukung yang disediakan (pp no.66 yang telah terakreditasi), hal ini secara tidak langsung menempatkan pendidikan asing cenderung memenangkan kompetisi terhadap berbagai perguruan tinggi swasta bahkan negeri dinegara ini. Akibatnya yah bisa kawan-kawan perediksi sendiri, generasi muda cenderung berorientasi pada pendidikan asing. Hal ini terlihat jelasa dengan fenomena saat ini dimana kaulah mudah cenderung sangat bangga jika bersekolah atau kuliah diluar negeri. Bukannya salah tapi konsekuensui dari semua ini akan berdampak terhadap ideologi dan cara berfikir kita yang lambat laun kian melupakan kearifan local kita.





Minggu, 01 Mei 2011

Mayday

Sekedar refresh saja klo hari ini adalah hari buruh (mayday), bagi kawan-kawan aktivis mahasiswa hari merupakan hari yang sangat bersejarah karena dianggapsebagai cikal bakal atas ekploitasi terhadap kaum pekerja terkait mengenai hari dan jam kerja, biasanya pada tanggal 1 mei ini diberbagi belahan dunia diperingati dengan cara aksi/demonstrasi, begitupun dinegara kita (indonesia) hampir seluruh pelosok jalan-jalan protokoler ataupun jalan arteri tumpah ruah akan riuh massa demonstran yang tergabung dari berbagi jenis organ-organ guna menyuarakan keluhan ataupun ketimpangan-ketimpangan yang yang terjadi di negeri ini , sayangnya pada saat ini para demonstran yang turun mayoritas tidak lagi berdasarkan idealisme atupun sekedar persamaan visi merekah semata, kalaupun ada hanya sekian persen saja. para demonstran yang turun saat ini tidak tahu grand issue yang diangkat bahkan parahnya lagi mayoritas dari merekah hanya sekedar ikut-ikutan saja. Menurutku tidak ada salahya klo kita sekedar flasback kebeberapa dekade yang telah berlalu sebenarnya bagaimana sih sejara hari buruh itu, dari mana, dan sejak kapan bangsa indonesia memperingatinya. Berikut adalah sedikit review tentang sejarah mayday berdasarkan wikipedia
Hari Buruh atau yang kita kenal dengan sebutan May Day umumnya dirayakan pada tanggal 1 Mei. pada beberapa negara Hari buruh ini dijadikan sebagai hari libur tahunan yang berawal dari usaha gerakan serikat buruh untuk merayakan keberhasilan ekonomi dan sosial para buruh.
Sejarah Hari Buruh
May Day berawal dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja (red buruh) untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis di berbagai bidang utamanya ekonomi-politik. Hal ini terjadi diberbagai belahan dunia utamanya di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.
Rentetan awal perjuangan kaum buruh ditandai dengan aksi Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi di tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.
Kala itu Ada dua orang yang menyumbangkan gagasan untuk menghormati para pekerja, Peter McGuire dan Matthew Maguire, seorang pekerja mesin dari Paterson, New Jersey. Pada tahun 1872, McGuire dan 100.000 pekerja melakukan aksi mogok untuk menuntut mengurangan jam kerja. McGuire lalu melanjutkan dengan berbicara dengan para pekerja and para pengangguran, melobi pemerintah kota untuk menyediakan pekerjaan dan uang lembur. McGuire menjadi terkenal dengan sebutan "pengganggu ketenangan masyarakat".
Pada tahun 1881, McGuire pindah ke St. Louis, Missouri dan memulai untuk mengorganisasi para tukang kayu. Akhirnya didirikanlah sebuah persatuan yang terdiri atas tukang kayu di Chicago, dengan McGuire sebagai Sekretaris Umum dari "United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America". Ide untuk mengorganisasikan pekerja menurut bidang keahlian mereka kemudian merebak ke seluruh negara. McGuire dan para pekerja di kota-kota lain merencanakan hari libur untuk Para pekerja di setiap Senin Pertama Bulan September di antara Hari Kemerdekaan dan hari Pengucapan Syukur.
Pada tanggal 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di kota New York dengan peserta 20.000 orang yang membawa spanduk bertulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi. Maguire dan McGuire memainkan peran penting dalam menyelenggarakan parade ini. Dalam tahun-tahun berikutnya, gagasan ini menyebar dan semua negara bagian merayakannya.
Pada 1887, Oregon menjadi negara bagian pertama yang menjadikannya hari libur umum. Pada 1894. Presider Grover Cleveland menandatangani sebuah undang-undang yang menjadikan minggu pertama bulan September hari libur umum resmi nasional.
Kongres Internasional Pertama diselenggarakan pada September 1866 di Jenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan dunia. Kongres ini menetapkan sebuah tuntutan mereduksi jam kerja menjadi delapan jam sehari, yang sebelumnya (masih pada tahun sama) telah dilakukan National Labour Union di AS: Sebagaimana batasan-batasan ini mewakili tuntutan umum kelas pekerja Amerika Serikat, maka kongres mengubah tuntutan ini menjadi landasan umum kelas pekerja seluruh dunia.
Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut. Tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872, menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.
Peristiwa Haymarket
Pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei.Pada tanggal 4 Mei 1886. Para Demonstran melakukan pawai besar-besaran, Polisi Amerika kemudian menembaki para demonstran tersebut sehingga ratusan orang tewas dan para pemimpinnya ditangkap kemudian dihukum mati, para buruh yang meninggal dikenal sebagai martir. Sebelum peristiwa 1 Mei itu, di berbagai negara, juga terjadi pemogokan-pemogokan buruh untuk menuntut perlakukan yang lebih adil dari para pemilik modal.
Kongres Sosialis Dunia
Pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa di AS tanggal 1 Mei itu sebagai hari buruh sedunia dan mengeluarkan resolusi berisi:
Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Perancis.
Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara dan sejak tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara, meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka.