Sekedar refresh saja klo hari ini adalah hari buruh (mayday), bagi kawan-kawan aktivis mahasiswa hari merupakan hari yang sangat bersejarah karena dianggapsebagai cikal bakal atas ekploitasi terhadap kaum pekerja terkait mengenai hari dan jam kerja, biasanya pada tanggal 1 mei ini diberbagi belahan dunia diperingati dengan cara aksi/demonstrasi, begitupun dinegara kita (indonesia) hampir seluruh pelosok jalan-jalan protokoler ataupun jalan arteri tumpah ruah akan riuh massa demonstran yang tergabung dari berbagi jenis organ-organ guna menyuarakan keluhan ataupun ketimpangan-ketimpangan yang yang terjadi di negeri ini , sayangnya pada saat ini para demonstran yang turun mayoritas tidak lagi berdasarkan idealisme atupun sekedar persamaan visi merekah semata, kalaupun ada hanya sekian persen saja. para demonstran yang turun saat ini tidak tahu grand issue yang diangkat bahkan parahnya lagi mayoritas dari merekah hanya sekedar ikut-ikutan saja. Menurutku tidak ada salahya klo kita sekedar flasback kebeberapa dekade yang telah berlalu sebenarnya bagaimana sih sejara hari buruh itu, dari mana, dan sejak kapan bangsa indonesia memperingatinya. Berikut adalah sedikit review tentang sejarah mayday berdasarkan wikipedia
Hari Buruh atau yang kita kenal dengan sebutan May Day umumnya dirayakan pada tanggal 1 Mei. pada beberapa negara Hari buruh ini dijadikan sebagai hari libur tahunan yang berawal dari usaha gerakan serikat buruh untuk merayakan keberhasilan ekonomi dan sosial para buruh.
Sejarah Hari Buruh
May Day berawal dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja (red buruh) untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis di berbagai bidang utamanya ekonomi-politik. Hal ini terjadi diberbagai belahan dunia utamanya di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.
Rentetan awal perjuangan kaum buruh ditandai dengan aksi Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi di tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.
Kala itu Ada dua orang yang menyumbangkan gagasan untuk menghormati para pekerja, Peter McGuire dan Matthew Maguire, seorang pekerja mesin dari Paterson, New Jersey. Pada tahun 1872, McGuire dan 100.000 pekerja melakukan aksi mogok untuk menuntut mengurangan jam kerja. McGuire lalu melanjutkan dengan berbicara dengan para pekerja and para pengangguran, melobi pemerintah kota untuk menyediakan pekerjaan dan uang lembur. McGuire menjadi terkenal dengan sebutan "pengganggu ketenangan masyarakat".
Pada tahun 1881, McGuire pindah ke St. Louis, Missouri dan memulai untuk mengorganisasi para tukang kayu. Akhirnya didirikanlah sebuah persatuan yang terdiri atas tukang kayu di Chicago, dengan McGuire sebagai Sekretaris Umum dari "United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America". Ide untuk mengorganisasikan pekerja menurut bidang keahlian mereka kemudian merebak ke seluruh negara. McGuire dan para pekerja di kota-kota lain merencanakan hari libur untuk Para pekerja di setiap Senin Pertama Bulan September di antara Hari Kemerdekaan dan hari Pengucapan Syukur.
Pada tanggal 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di kota New York dengan peserta 20.000 orang yang membawa spanduk bertulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi. Maguire dan McGuire memainkan peran penting dalam menyelenggarakan parade ini. Dalam tahun-tahun berikutnya, gagasan ini menyebar dan semua negara bagian merayakannya.
Pada 1887, Oregon menjadi negara bagian pertama yang menjadikannya hari libur umum. Pada 1894. Presider Grover Cleveland menandatangani sebuah undang-undang yang menjadikan minggu pertama bulan September hari libur umum resmi nasional.
Kongres Internasional Pertama diselenggarakan pada September 1866 di Jenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan dunia. Kongres ini menetapkan sebuah tuntutan mereduksi jam kerja menjadi delapan jam sehari, yang sebelumnya (masih pada tahun sama) telah dilakukan National Labour Union di AS: Sebagaimana batasan-batasan ini mewakili tuntutan umum kelas pekerja Amerika Serikat, maka kongres mengubah tuntutan ini menjadi landasan umum kelas pekerja seluruh dunia.
Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut. Tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872, menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.
Peristiwa Haymarket
Pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei.Pada tanggal 4 Mei 1886. Para Demonstran melakukan pawai besar-besaran, Polisi Amerika kemudian menembaki para demonstran tersebut sehingga ratusan orang tewas dan para pemimpinnya ditangkap kemudian dihukum mati, para buruh yang meninggal dikenal sebagai martir. Sebelum peristiwa 1 Mei itu, di berbagai negara, juga terjadi pemogokan-pemogokan buruh untuk menuntut perlakukan yang lebih adil dari para pemilik modal.
Kongres Sosialis Dunia
Pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa di AS tanggal 1 Mei itu sebagai hari buruh sedunia dan mengeluarkan resolusi berisi:
Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Perancis.
Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara dan sejak tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara, meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka.
Minggu, 01 Mei 2011
Rabu, 27 April 2011
PERANG ANTAR FAKULTAS, SALANYA SIAPA?
PERANG!
mungkin bagi masyarakat sipil idealnya kata perang mestinya kurang cocok untuk dijadikan bahan cerita (red diskusi) oleh seorang mahasiswa yang katanya adalah kaum intelektual dan terdidik. na' klo dibicarakan saja kurang cocok berarti lebih-lebih jadi aktornya apalagi aktor utamanya, itu klo ideal ki! tapi maumi diapa? (tanyakan pada rumput yang bergoyang) ternyata disini bedaki kasusnya ces! nda begitu ki.
Pada awal tahun 2000, saya mengemban amanah sebagai presidium ketua senat mahasiswa Fisip Universitas Hasanuddin (Unhas). Bersama beberapa sahabat, saya berkomitmen untuk memberantas tawuran yang setiap tahunnya selalu melibatkan mahasiswa Fisip dan Teknik. Kami memang bekerja keras. Tapi, sepanjang periode kepengurusan, saya jadi paham bahwa mengatasi tawuran tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mustahil pula mengatasi tawuran dengan hanya menyalahkan mahasiswa semata. Ini logika para petinggi kampus yang jelas-jelas keliru. Kita mesti melihat tawuran secara proporsional sehingga penanganannya bisa lebih holistik. Baik mahasiswa, dosen, maupun pejabat kampus harus sama-sama berbesar hati kalau semuanya punya ‘kontribusi’ pada lahirnya tawuran. Jangan hanya menuding mahasiswa saja.
Dulu, sewaktu pertama masuk menjadi mahasiswa Unhas, saya heran juga mendengar berita tentang anak Unhas yang suka tawuran. Kedengarannya aneh dan agak primitif. Saya kadang malu dengan tradisi tawuran ini. Masak sih, para mahasiswa yang katanya intelektual muda suka tawuran. Saya sendiri sering tidak percaya, kok sampai harus tawuran. Apa gak malu sama masyarakat di luaran sana. Apalagi, sebab-sebab tawuran adalah hal-hal yang mungkin sepele bagi sebagian orang. Masalah ceweklah, masalah saling ejek, hingga masalah ada teman yang dipukul. Masalah seperti itu bisa jadi api besar yang kemudian membakar solidaritas kolektif. Massa kemudian ramai-ramai menyerbu fakultas lain. Tapi itulah faktanya.
Setelah menjadi mahasiswa Unhas, saya baru paham bahwa tawuran itu tidak benar-benar murni tawuran. Memang sih, mereka saling lempar batu, saling merusak gedung perkuliahan sendiri, juga saling ancam dengan badik terhunus. Tapi, setelah selesai peristiwa tawuran, mereka kembali berbaur sama-sama, seolah tanpa masalah. Mereka kembali menaiki angkutan umum yang sama. Bahkan saat di pondokan (kompleks kos-kosan mahasiswa), dua kelompok mahasiswa –yang sebelumnya bertikai itu– saling bercerita dengan gagah bagaimana aksinya ketika melempari mahasiswa lain. Mereka menyebutkan posisinya saat tawuran, serta “prestasinya” saat berhasil menikam atau mengancam mahasiswa beda fakultas. Mereka saling bercerita dengan penuh kebanggan, padahal sejam sebelumnya mereka adalah mahasiswa yang saling bertikai, saling konflik dengan badik terhunus.
Ini jelas berbeda dengan tawuran di beberapa kampus swasta yang kadang saling kejar sampai pondokan mahassiwa. Kalau di Unhas, hanya saat tawuran saja. Setelah itu situasinya damai dan saling canda. Meskipun besoknya saat ke kampus, kembali lanjut tawuran. Itulah kampus Unhas.
Banyak mahasiswa Unhas yang berseloroh bahwa tawuran adalah bagian dari kalender akademik sebab, biasanya terjadi setiap bulan September. Pada bulan itu, mahasiswa merasa tertekan dengan tugas-tugas perkuliahan yang menggunung, dengan tuntutan mengerjakan skripsi yang berat. Melalui tawuran, mereka sejenak terbebaskan dari rutinitas tugas itu. Kampus akan segera diliburkan, kemudian mereka bisa istirahat sejenak.
Melalui tawuran, energi besar yang merteka keluarkan akan tersalurkan. Mereka kemudian merasa plong dan terbebaskan. Logikanya sama dengan seorang kawan yang lagi stres, dan sengaja pergi nonton pertandingan PSM di Stadion Mattoanging. Ia bebas teriak, mengumpat, dan memaki-maki. Sepulang nonton pertandingan sepakbola, ia merasa plong dan bebas stres. Logika yang sama juga berlaku dengan mahasiswa yang tawuran. Tertekan oleh tugas perkuliahan, hasrat berorganisasi yang tidak tersalurkan (karena kebijakan dropout yang kian ketat), serta kurangnya aktivitas kemahasiswaan yang diizinkan pihak kampus, menjadi benih-benih yang menyemai suburnya tradisi tawuran. Ini masih diperparah dengan arogansi pengajar yang merasa sok hebat, serta tiadanya katup-katup yang bisa mencairkan hubungan antar fakultas. Semua memperparah tradisi tawuran.
Satu hal yang juga perlu ditambahkan yakni arogansi ilmu pengetahuan. Mestinya ilmu harus dilihat sebagai proses perjalanan untuk menemukan pengetahuan yang kemudian mengasah kebijakasanaan. Tapi di Unhas, ilmu menjadi terkotak-kotak dan masing-masing merasa lebih hebat. Bukan rahasia lagi kalau di kampus Unhas, mereka yang kuliah di ilmu-ilmu teknik seperti eksak merasa lebih superior ketimbang yang kuliah di ilmu sosial. Kuliah di eksak seolah identik dengan kecerdasan dan kehebatan, semenatra yang kuliah di ilmu-ilmu sosial adalah kelompok yang gagal bersaing. Saya sendiri prihatin dengan kondisi ini. Apalagi, di kampus Unhas, filsafat ilmu tidak menjadi mata kuliah wajib. Pantas saja jika mahasiswa dan para pengajafrnya terkotak-kotak dalam cara berpikir yang sempit dan tiddak melihat relasi antar bidang pengetahuan. Inilah faktanya.
Banyak juga publik yang mengaitkan tawuran itu dengan situasi politik di Sulsel. Pada tahun 1992, gedung laboratorium milik Fakultas Teknik Unhas terbakar. Kata banyak orang, tawuran itu terkait dengan situasi jelang pemilihan Gubernur Sulsel, di mana saat itu Rektor Unhas Prof Basri Hasanuddin menjadi kandidat yang terkuat. Tapi, saya tidak terlalu sepakat dengan arumentasi tentang situasi politik ini. Logika ini sama saja dengan memposisikan mahasiswa hanya sebagai pion yang mudah dikendalikan. Saya lebih sepakat dnegan argumentasi bahwa terjadi banyak masalah di tingkat internal dalam kampus. Dan tawuran hanyalah satu kanalisasi untuk menyalurkan energi mahasiswa. Tabik….
Dan iInilah Bukti Di Makassar itu Aman / Toleransi Dan Bersahabat !!!
Dengan kata lain, sejak itu pula tonggak sejarah sosial orang-orang Bugis-Makassar mengalami semacam pergeseran. Bernard HM Vlekke (Nusantara: Sejarah Indonesia, 2006) mencatat, Perjanjian Bongaya menimbulkan perubahan revolusioner dalam organisasi politik di bagian timur kepulauan Indonesia. Selain mendapatkan monopoli dagang di pelabuhan Makassar, Belanda juga menerapkan berbagai pembatasan. Raja Gowa bahkan diminta agar menganjurkan rakyatnya menanggalkan aktivitas kemaritiman mereka, mengubah profesi dari pelaut ke petani.
Munculnya kekuasaan otoriter di kawasan ini menyebabkan sangat banyak orang Bugis-Makassar yang melarikan diri. MC Ricklefs (Sejarah Indonesia Modern: 1200-2004, 2008) bahkan menggambarkan situasi kala itu lebih dramatis lagi. Katanya, ”Mereka (orang-orang Bugis-Makassar) lari menuju kapal-kapal mereka bagaikan perompak Viking yang mencari kehormatan, kekayaan, dan tempat-tempat tinggal baru.”
Dinamika lokal
Di tempat baru, orang Bugis-Makassar melibatkan diri dalam berbagai peristiwa sosial politik lokal. Sebutlah di Lombok, Sumbawa, Kalimantan, Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaysia, bahkan di Siam. ”Sampai abad XVIII, prajurit ganas ini menjadi momok di Nusantara,” tulis sejarawan dari Australia itu.
Migrasi besar-besaran orang-orang Bugis-Makassar tersebut ikut mewarnai dinamika lokal. Mukhlis PaEni mencatat, sepanjang dua abad (XVII-XIX) lebih mereka tidak hanya menciptakan dinamika ekonomi dan politik, tetapi juga akulturasi sosial budaya melalui perkimpoian campuran.
Bagi Mukhlis, fenomena ini bukan migrasi biasa. Ia menyebutnya diaspora Bugis-Makassar. Bangsawan dan raja-raja kecil yang terikat dalam persekutuan dengan Kerajaan Gowa—beserta pengikutnya—tersebut mengembara dan membuka daerah baru, yang kemudian menjelma menjadi komunitas-komunitas Bugis-Makassar di berbagai daerah di Nusantara.
”Mereka mencari arena yang lebih leluasa untuk kehidupan yang lebih bebas, sekaligus menegakkan kewibawaan mereka di mata pengikutnya. Di tempat-tempat baru mereka membaur ke dalam dinamika sosial politik lokal yang berlangsung melalui kerja sama saling menguntungkan,” ujar Mukhlis.
Keterlibatan orang-orang Bugis-Makassar dalam dinamika lokal di berbagai tempat di Nusantara masih bisa dilacak kini. Di Pulau Jawa, misalnya, baik naskah Babad Tanah Jawi maupun Babad Kraton Jawa menggambarkan prajurit-prajurit dari timur Nusantara ini membantu Trunajaya mempereteli kekuasaan Mataram yang disokong Belanda. Nama Karaeng Galesong dan Karaeng Daeng Naba, dua bangsawan Kerajaan Gowa-Tallo, jadi tokoh sentral dalam kisah perseteruan itu. Tiga puluh dua makam prajurit dari Gowa di kompleks Pemakaman Mlati, Sleman, Yogyakarta, adalah saksi sejarah keterlibatan orang Bugis-Makassar dalam dinamika politik setempat.
Label kesatuan prajurit Bugis dalam ”ketentaraan” di Keraton Yogyakarta yang ada saat ini bukti lain dari eksistensi Bugis-Makassar di jantung kekuasaan Mataram. Dokter Wahidin Soedirohoesodo—pahlawan nasional, tokoh pendorong lahirnya Budi Utomo—ternyata leluhurnya pun keturunan Bugis-Makassar: Daeng Naba!
Di Kalimantan, Sumatera, dan Tanah Semenanjung, keterlibatan orang-orang Bugis-Makassar dalam dinamika lokal juga memberi warna baru. Di beberapa tempat mereka bahkan bisa masuk ke pusat kekuasaan istana, baik sebagai raja muda (dalam kasus di Kesultanan Melayu di Johor dan Riau) maupun sebagai raja atau sultan, seperti di Aceh, Selangor, Trengganu, Pahang, dan Mempawah.
Selain keterlibatan dalam dunia perdagangan hingga politik kekuasaan, ”sumbangan” terbesar dari sejarah sosial orang-orang Bugis-Makassar pasca-Perjanjian Bongaya adalah lahirnya manusia baru Nusantara dari perkimpoian campuran dengan warga setempat.
Akulturasi budaya pun terjadi. Di sanalah akar kemajemukan yang menjadi kekuatan bangsa disemai dalam taman keindonesiaan kita hari ini....
mungkin bagi masyarakat sipil idealnya kata perang mestinya kurang cocok untuk dijadikan bahan cerita (red diskusi) oleh seorang mahasiswa yang katanya adalah kaum intelektual dan terdidik. na' klo dibicarakan saja kurang cocok berarti lebih-lebih jadi aktornya apalagi aktor utamanya, itu klo ideal ki! tapi maumi diapa? (tanyakan pada rumput yang bergoyang) ternyata disini bedaki kasusnya ces! nda begitu ki.
******
perang edede...lumrah jie. na bilang anak2 klo perang biasanya ji itu ca' jangang meko lebay (alay..) na klo bicara perang itu disini... nda ada jie bedanya dengan abg2 (anak baru gede) klo lagi bicarakan tentang gosip-gosip yang tidak jelas itu apaka intu mae justin beiberkah yang mau konser atau ibu2 yang lagi cerita tentang videox briptu norman bigitu tonji dengan perang disini. sebenarnya bukanji maksudta bilang mau dihalalkan itu perang tapi, skali lagi ca' maumi di apa?????? sebenarnya tidak pernahji ada niatta kita (TEKNIK) mau perang dengan teman2ta (red: sok akrab) fakultas lain-lain (red: sospol, sastra, ekonomi, hukum,etc banyak skali belah klo disebut semuai) tapi bagaimanami pale toh awalnya kita mauje ki pergi kejasbog (kantin) makan tiba-tiba ada batu melayang kekita? yah dasar kita orangnya memang baik refleks dengan lugunya kita kasi' kembalikanmi itu batu ke asalnya (melempar balik). na begitu ji, semuanya hanya spontanitas. yah kurang lebih begitulah kira-kira awal mula terjadinya sebuah perang, anehnya kejadian-kejadian seperti ini selalu terjadi hampir setiap tahunnya, malahan bisa dibilang klo perang disini adalah rutinitas tahunan, ibaratnya hari kemerdekaan dimana tiap tahun diperingati begitu tongmi juga dengan perang antar fakultas, lain-lain dirasa klo tidak perang seperti lagunya ipang ada yang hilang gitu, sebagai seorang mahasiswa pastinya akan bertanya jugajeki sejak kapan budaya ini ada, darimana dan seterusnya, berikut mungkin bisa jadi salah satu refence bagi kita semua:******
(Sumber KOMPAS, 16 Januari 2009)
Pada awal tahun 2000, saya mengemban amanah sebagai presidium ketua senat mahasiswa Fisip Universitas Hasanuddin (Unhas). Bersama beberapa sahabat, saya berkomitmen untuk memberantas tawuran yang setiap tahunnya selalu melibatkan mahasiswa Fisip dan Teknik. Kami memang bekerja keras. Tapi, sepanjang periode kepengurusan, saya jadi paham bahwa mengatasi tawuran tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mustahil pula mengatasi tawuran dengan hanya menyalahkan mahasiswa semata. Ini logika para petinggi kampus yang jelas-jelas keliru. Kita mesti melihat tawuran secara proporsional sehingga penanganannya bisa lebih holistik. Baik mahasiswa, dosen, maupun pejabat kampus harus sama-sama berbesar hati kalau semuanya punya ‘kontribusi’ pada lahirnya tawuran. Jangan hanya menuding mahasiswa saja.
Dulu, sewaktu pertama masuk menjadi mahasiswa Unhas, saya heran juga mendengar berita tentang anak Unhas yang suka tawuran. Kedengarannya aneh dan agak primitif. Saya kadang malu dengan tradisi tawuran ini. Masak sih, para mahasiswa yang katanya intelektual muda suka tawuran. Saya sendiri sering tidak percaya, kok sampai harus tawuran. Apa gak malu sama masyarakat di luaran sana. Apalagi, sebab-sebab tawuran adalah hal-hal yang mungkin sepele bagi sebagian orang. Masalah ceweklah, masalah saling ejek, hingga masalah ada teman yang dipukul. Masalah seperti itu bisa jadi api besar yang kemudian membakar solidaritas kolektif. Massa kemudian ramai-ramai menyerbu fakultas lain. Tapi itulah faktanya.
Setelah menjadi mahasiswa Unhas, saya baru paham bahwa tawuran itu tidak benar-benar murni tawuran. Memang sih, mereka saling lempar batu, saling merusak gedung perkuliahan sendiri, juga saling ancam dengan badik terhunus. Tapi, setelah selesai peristiwa tawuran, mereka kembali berbaur sama-sama, seolah tanpa masalah. Mereka kembali menaiki angkutan umum yang sama. Bahkan saat di pondokan (kompleks kos-kosan mahasiswa), dua kelompok mahasiswa –yang sebelumnya bertikai itu– saling bercerita dengan gagah bagaimana aksinya ketika melempari mahasiswa lain. Mereka menyebutkan posisinya saat tawuran, serta “prestasinya” saat berhasil menikam atau mengancam mahasiswa beda fakultas. Mereka saling bercerita dengan penuh kebanggan, padahal sejam sebelumnya mereka adalah mahasiswa yang saling bertikai, saling konflik dengan badik terhunus.
Ini jelas berbeda dengan tawuran di beberapa kampus swasta yang kadang saling kejar sampai pondokan mahassiwa. Kalau di Unhas, hanya saat tawuran saja. Setelah itu situasinya damai dan saling canda. Meskipun besoknya saat ke kampus, kembali lanjut tawuran. Itulah kampus Unhas.
Banyak mahasiswa Unhas yang berseloroh bahwa tawuran adalah bagian dari kalender akademik sebab, biasanya terjadi setiap bulan September. Pada bulan itu, mahasiswa merasa tertekan dengan tugas-tugas perkuliahan yang menggunung, dengan tuntutan mengerjakan skripsi yang berat. Melalui tawuran, mereka sejenak terbebaskan dari rutinitas tugas itu. Kampus akan segera diliburkan, kemudian mereka bisa istirahat sejenak.
Melalui tawuran, energi besar yang merteka keluarkan akan tersalurkan. Mereka kemudian merasa plong dan terbebaskan. Logikanya sama dengan seorang kawan yang lagi stres, dan sengaja pergi nonton pertandingan PSM di Stadion Mattoanging. Ia bebas teriak, mengumpat, dan memaki-maki. Sepulang nonton pertandingan sepakbola, ia merasa plong dan bebas stres. Logika yang sama juga berlaku dengan mahasiswa yang tawuran. Tertekan oleh tugas perkuliahan, hasrat berorganisasi yang tidak tersalurkan (karena kebijakan dropout yang kian ketat), serta kurangnya aktivitas kemahasiswaan yang diizinkan pihak kampus, menjadi benih-benih yang menyemai suburnya tradisi tawuran. Ini masih diperparah dengan arogansi pengajar yang merasa sok hebat, serta tiadanya katup-katup yang bisa mencairkan hubungan antar fakultas. Semua memperparah tradisi tawuran.
Satu hal yang juga perlu ditambahkan yakni arogansi ilmu pengetahuan. Mestinya ilmu harus dilihat sebagai proses perjalanan untuk menemukan pengetahuan yang kemudian mengasah kebijakasanaan. Tapi di Unhas, ilmu menjadi terkotak-kotak dan masing-masing merasa lebih hebat. Bukan rahasia lagi kalau di kampus Unhas, mereka yang kuliah di ilmu-ilmu teknik seperti eksak merasa lebih superior ketimbang yang kuliah di ilmu sosial. Kuliah di eksak seolah identik dengan kecerdasan dan kehebatan, semenatra yang kuliah di ilmu-ilmu sosial adalah kelompok yang gagal bersaing. Saya sendiri prihatin dengan kondisi ini. Apalagi, di kampus Unhas, filsafat ilmu tidak menjadi mata kuliah wajib. Pantas saja jika mahasiswa dan para pengajafrnya terkotak-kotak dalam cara berpikir yang sempit dan tiddak melihat relasi antar bidang pengetahuan. Inilah faktanya.
Banyak juga publik yang mengaitkan tawuran itu dengan situasi politik di Sulsel. Pada tahun 1992, gedung laboratorium milik Fakultas Teknik Unhas terbakar. Kata banyak orang, tawuran itu terkait dengan situasi jelang pemilihan Gubernur Sulsel, di mana saat itu Rektor Unhas Prof Basri Hasanuddin menjadi kandidat yang terkuat. Tapi, saya tidak terlalu sepakat dengan arumentasi tentang situasi politik ini. Logika ini sama saja dengan memposisikan mahasiswa hanya sebagai pion yang mudah dikendalikan. Saya lebih sepakat dnegan argumentasi bahwa terjadi banyak masalah di tingkat internal dalam kampus. Dan tawuran hanyalah satu kanalisasi untuk menyalurkan energi mahasiswa. Tabik….
Dan iInilah Bukti Di Makassar itu Aman / Toleransi Dan Bersahabat !!!
Dengan kata lain, sejak itu pula tonggak sejarah sosial orang-orang Bugis-Makassar mengalami semacam pergeseran. Bernard HM Vlekke (Nusantara: Sejarah Indonesia, 2006) mencatat, Perjanjian Bongaya menimbulkan perubahan revolusioner dalam organisasi politik di bagian timur kepulauan Indonesia. Selain mendapatkan monopoli dagang di pelabuhan Makassar, Belanda juga menerapkan berbagai pembatasan. Raja Gowa bahkan diminta agar menganjurkan rakyatnya menanggalkan aktivitas kemaritiman mereka, mengubah profesi dari pelaut ke petani.
Munculnya kekuasaan otoriter di kawasan ini menyebabkan sangat banyak orang Bugis-Makassar yang melarikan diri. MC Ricklefs (Sejarah Indonesia Modern: 1200-2004, 2008) bahkan menggambarkan situasi kala itu lebih dramatis lagi. Katanya, ”Mereka (orang-orang Bugis-Makassar) lari menuju kapal-kapal mereka bagaikan perompak Viking yang mencari kehormatan, kekayaan, dan tempat-tempat tinggal baru.”
Dinamika lokal
Di tempat baru, orang Bugis-Makassar melibatkan diri dalam berbagai peristiwa sosial politik lokal. Sebutlah di Lombok, Sumbawa, Kalimantan, Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaysia, bahkan di Siam. ”Sampai abad XVIII, prajurit ganas ini menjadi momok di Nusantara,” tulis sejarawan dari Australia itu.
Migrasi besar-besaran orang-orang Bugis-Makassar tersebut ikut mewarnai dinamika lokal. Mukhlis PaEni mencatat, sepanjang dua abad (XVII-XIX) lebih mereka tidak hanya menciptakan dinamika ekonomi dan politik, tetapi juga akulturasi sosial budaya melalui perkimpoian campuran.
Bagi Mukhlis, fenomena ini bukan migrasi biasa. Ia menyebutnya diaspora Bugis-Makassar. Bangsawan dan raja-raja kecil yang terikat dalam persekutuan dengan Kerajaan Gowa—beserta pengikutnya—tersebut mengembara dan membuka daerah baru, yang kemudian menjelma menjadi komunitas-komunitas Bugis-Makassar di berbagai daerah di Nusantara.
”Mereka mencari arena yang lebih leluasa untuk kehidupan yang lebih bebas, sekaligus menegakkan kewibawaan mereka di mata pengikutnya. Di tempat-tempat baru mereka membaur ke dalam dinamika sosial politik lokal yang berlangsung melalui kerja sama saling menguntungkan,” ujar Mukhlis.
Keterlibatan orang-orang Bugis-Makassar dalam dinamika lokal di berbagai tempat di Nusantara masih bisa dilacak kini. Di Pulau Jawa, misalnya, baik naskah Babad Tanah Jawi maupun Babad Kraton Jawa menggambarkan prajurit-prajurit dari timur Nusantara ini membantu Trunajaya mempereteli kekuasaan Mataram yang disokong Belanda. Nama Karaeng Galesong dan Karaeng Daeng Naba, dua bangsawan Kerajaan Gowa-Tallo, jadi tokoh sentral dalam kisah perseteruan itu. Tiga puluh dua makam prajurit dari Gowa di kompleks Pemakaman Mlati, Sleman, Yogyakarta, adalah saksi sejarah keterlibatan orang Bugis-Makassar dalam dinamika politik setempat.
Label kesatuan prajurit Bugis dalam ”ketentaraan” di Keraton Yogyakarta yang ada saat ini bukti lain dari eksistensi Bugis-Makassar di jantung kekuasaan Mataram. Dokter Wahidin Soedirohoesodo—pahlawan nasional, tokoh pendorong lahirnya Budi Utomo—ternyata leluhurnya pun keturunan Bugis-Makassar: Daeng Naba!
Di Kalimantan, Sumatera, dan Tanah Semenanjung, keterlibatan orang-orang Bugis-Makassar dalam dinamika lokal juga memberi warna baru. Di beberapa tempat mereka bahkan bisa masuk ke pusat kekuasaan istana, baik sebagai raja muda (dalam kasus di Kesultanan Melayu di Johor dan Riau) maupun sebagai raja atau sultan, seperti di Aceh, Selangor, Trengganu, Pahang, dan Mempawah.
Selain keterlibatan dalam dunia perdagangan hingga politik kekuasaan, ”sumbangan” terbesar dari sejarah sosial orang-orang Bugis-Makassar pasca-Perjanjian Bongaya adalah lahirnya manusia baru Nusantara dari perkimpoian campuran dengan warga setempat.
Akulturasi budaya pun terjadi. Di sanalah akar kemajemukan yang menjadi kekuatan bangsa disemai dalam taman keindonesiaan kita hari ini....
Senin, 25 April 2011
Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhiR
******
mungkin kalo kita pernah membaca atau mendengar kalimat mahasiswa tingkat akhir maka sebagian besar dari kita akan berfikir artinya sebentar mami na selesai atau sibuk mi kerja skripsi na. wajar jie memang kayaknya klo orang -orang spontan akan berpikir begitu, namanya juga mahasiswa tingkat akhir yah pastimi mahasiswa yang sudah masuk semester 7 atau 8. ha..ha...ha..kalimat diatas memang multiinterpretasi, bagi orang yang isi otaknya lebih di dominasi akan pikiran-pikiran negatif atau malas menggunakan otaknya pasti-mi akan berfikir pragmatis saja "santai saja klo mauki lulus pasti lulus jeki itu", sedangkan klo untuk orang yang masih mau menggunakan sedikit otaknya pastinya akan sedikit lebih bijak dalam menanggapinya "Tuhan bersama seluruh mahasiswa… Hanya saja Beliau sedikit memberi perhatian lebih kepada mahasiswa tingkat akhir. na' klo dipikir-pikir nasib seorang mahasiswa tingkat akhir adalah fase paling berat dalam dunia yang kita kenal dengan nama dunia campus.na bilang senior susah memang masuk diteknik de' tapi lebih susah lagi keluar, ada betulnya memang kayaknya itu kalimat. pikir mi saja itu keseharian seorang mahasiswa dalam fase ini paling sering berhubungan dengan yang namanya TA (red tugas akhir). TA disini ibaratnya adalah pacar kita sendiri yang dalam menjalani bawaannya selalu saja mau bertengkar. gara-gara itu mi harus ki pintar-pintar rayu ki misalnya saja, ajak ki lending di tempat-tempat yang banyak ilmunya. Perpustakaan!(sok intelek) buat dia terbang kedalam buku-buku yang bisa bikin dia semakin merasa cantik atau bisa juga dibawa ketemu dan diajak diskusi dengan teman ta supaya lebih gaul dan akrab. selain TA sebagai pacar pastinya kita juga sangat butuh teman atau sahabat yang super pengertian, yup bagi mahasiswa tingkat akhir mungkin kopi (red caffeine) adalah sahabat yang paling mengerti sama kita makanya wajar ji mungkin klo mahasiswa biasa bilang caffeine isn't a drugs, its a vitamin! nah berikut adalah hasil survey 10 hal yang dilakukan mahasiswa tingkat akhir adalah berdasar kaskus:
- ******1. Rajin ke PerpustakaanMahasiswa tingkat akhir, pastinya disuruh banyak cari referensi, ntah itu jurnal atau skripsi dari alumni, dan mau ga mau mereka cari bahan di perpus kampus atau perpus daerah… Kalo yang awalnya mereka cuma sekali dalam 1 semester ke perpus atau bahkan tidak pernah sama sekali ke perpus( seperti aku) , bisa dipastikan dengan adanya skripsi mereka harus ke perpus berkali-kali, biar dapet revisi banyak..2. Rajin SearchingSelain ke perpus, banyak mahasiswa yang diharuskan cari-cari bahan tambahan di internet, mau ga mau (pasti mau) mereka searching bisa sampe berjama-jam lamanya..tapi mungkin kebanyakan fesbuk atau hal-hal yang tidak penting ketimbang cari bahan… awas lho ntar ga beres-beres skripsinya..3. Rajin beli kertas & tintaKalo yang ini pasti, mahasiswa pasti membutuhkan yang namanya kertas dan tinta untuk ngeprint skripsi yang sudah mereka buat… tapi ga jarang juga, mahasiswa jadi boros sama kertas, alasannya kalo tiap bab di konsulkan ke dosen, biasanya banyak yg dicoret2 dan harus ngulang lagi dan ngulang lagi.4. Begadang99% kemungkinan banyak mahasiswa yang begadang, apalagi kalo sudah masuk dead line.. wuuiihh bisa ampe jam 2 malem, jam 3, jam 4 shubuh.. bahkan sampe g tidur.. udah kayak hansip aja yang jaga 24 jam non-stop..5. Makan ga teraturKadang terlalu sibuknya mahasiswa, dari kost, kampus, perpus, ketemu dosen dan blaa blaaa blaaaaa nyebabkan mereka makannya g teratur… pagi sarapan, siang ngemil doank, malem g makan, tp tengah malam sambil begadang mereka ngemil lagi.. itulah aku, walaupun sampai sekarang judul skripsiku masih belum jelas..6. Bokek Gara-Gara Pengeluaran Duit Banyak ( Udah Kayak air yang Ngalir)cekak atau malah sama sekali kagak punya duit udah biasa di kalangan mahasiswa.. yaaapp jalan satu-satunya adalah ngutang. udah ga terhitung berapa banyak mahasiswa di indonesia yg ngutang untuk menutupi krisi di akhir semesternya.. mo minta kiriman ortu, malu karena bulan ini minta 2x… Kalo untuk tingkat akhir, ada juga yang ngadain riset ato analisa, dan membutuhkan dana yg lumayan banyak… bisa jadi satu sampel analisa biaya peneliatian ampe 300 rbu, bayankan aja klo banyak sampel yg mesti diteliti… tambah bokek ajaa deh si mahasiswa..7. Nunggu Dosen Ampe Keringyang ini nih yang paling sering aku rasakan akhir-akhir ini. Males banget ga sih, klo mesti nunggu dosen yang tidak pasti datengnya, ditelpon janjinya 1 atau 2 jam lagi ternyata setelah berjam-jam tidak nongol juga batang hidungnya.. ammmpooooonnn dahhhhh Bapak Dosen atau Ibu Dosenn..8. Riset gagalDisini parahnya, kalau misalkan riset atau analisa gagal ditengah jalan ,apalgi kalo sudah didesak dosen untuk cepet selesai.. apa tambah ga gondok kita… bayangkan berapa usaha yg kita lakukan, berapa duit yang kita keluarkan.. klo ngebayangin itu, naudzubillah… jangan sampai deh.. menyedihkan9. D.O.W.Njangan sampe ini terjadi sama kita sekalian, ngerasa putus asa, dan ga ada semangatnya lagi, hal ini bisa terjadi karena :riset gagal, jenuh, ngeliat temennya sudah kelar, minder dll… ketika kita ngerasa down, cari variasi baru atau refresh kan pikiran sejenak untuk ninggalkan masalah skripsi.. yang penting cari suasana baru. Tp inget jangan terlalu kebawa enak, ntar skripsinya dilupaian berabe kan ga beres-beres malah..10. Emosi Gak Stabil“lw senggol, gw bacok nih”.. serem juga yah kalau mahasiswa udah ngomong gini.. Mungkin karena pengaruh suasana, mahasiswa kadang-kadang jadi emosional.. kadang marah-marah ga jelas, kadang nangis, kadang ngurung diri dikamar.. yaaacchh ngebayangin skripsi mereka yang ga kelar.. memang ga semua, tapi pasti ada beberapa yang mengalami seperti ini…?
Minggu, 24 April 2011
keanehan yang dinikmati
menjadi artis dalam sepekan
begitu mi kayaknya kalimat yang cocok dengan il fenomenal kita minggu kemarin "Briptu Norman Kamaru ". anggota brimob polda gorontalo yang tiba-tiba tenar lewat video lipsincx. yup lagu India Chaiya Chaiya yang dipopulerkan oleh shakhrul kahn ini berhasil bikin pak norman menjadi idola baru di negeri kita (our beloved country INDONESIA). anehnya aksi ini malah diberikan hukuman bernyanyi dan berjoget di depan teman-teman seprofesi bahkan pihak polri kita malah menjadikan dia "Briptu Norman Kamaru " sebagai icon aparat polisi, katanya sih karena hal ini sejalan dengan salah satu visi misi polri yang menunjukkan kini Polri menjadi humanis. (kreatif sih, memang sudah seharusnya orang-orang senantiasa berkreasi. mungkin kalimat ini cukup kena dengan artis baru kita "Makan bubur sambal terasi Lebih baik menghibur daripada korupsi" yah ditengah sekelumit problem yang dialami bangsa ini masih ada saja anak-anaknya yang berkreasi. tapi itu positifnya. diluar dari sudut pandang itu ternyata negeriku menjadi semakin pikun.
sorry ini untuk briptu norman kalo tersinggungki, bukannji maksudtnya mengkritik ini tapi yah terserahlah. anehji kayaknya kuliat hobinya orang-orang dinegarata. overki klo nabilang anak-anak mudayyah. terlalu berlebihanki sekarang kayaknya dalam menyikapi sesuatu. diluar dari sudut pandang kreatif hal ini menurutku malah tambah bikin tidak jelas karakter bangsa kita. cobameki pikir kira-kira klo orang-orang luar negeri tahu ternyata orang indonesia bangga akan kelakuan aparat pemerintah yang diluar kelaziman ini, tdiak berlebihan kayaknya klo suatu saya saat kita akan mendengar kalimat " you just like indonesian people, proud of strange behavior".
begitu mi kayaknya kalimat yang cocok dengan il fenomenal kita minggu kemarin "Briptu Norman Kamaru ". anggota brimob polda gorontalo yang tiba-tiba tenar lewat video lipsincx. yup lagu India Chaiya Chaiya yang dipopulerkan oleh shakhrul kahn ini berhasil bikin pak norman menjadi idola baru di negeri kita (our beloved country INDONESIA). anehnya aksi ini malah diberikan hukuman bernyanyi dan berjoget di depan teman-teman seprofesi bahkan pihak polri kita malah menjadikan dia "Briptu Norman Kamaru " sebagai icon aparat polisi, katanya sih karena hal ini sejalan dengan salah satu visi misi polri yang menunjukkan kini Polri menjadi humanis. (kreatif sih, memang sudah seharusnya orang-orang senantiasa berkreasi. mungkin kalimat ini cukup kena dengan artis baru kita "Makan bubur sambal terasi Lebih baik menghibur daripada korupsi" yah ditengah sekelumit problem yang dialami bangsa ini masih ada saja anak-anaknya yang berkreasi. tapi itu positifnya. diluar dari sudut pandang itu ternyata negeriku menjadi semakin pikun.
sorry ini untuk briptu norman kalo tersinggungki, bukannji maksudtnya mengkritik ini tapi yah terserahlah. anehji kayaknya kuliat hobinya orang-orang dinegarata. overki klo nabilang anak-anak mudayyah. terlalu berlebihanki sekarang kayaknya dalam menyikapi sesuatu. diluar dari sudut pandang kreatif hal ini menurutku malah tambah bikin tidak jelas karakter bangsa kita. cobameki pikir kira-kira klo orang-orang luar negeri tahu ternyata orang indonesia bangga akan kelakuan aparat pemerintah yang diluar kelaziman ini, tdiak berlebihan kayaknya klo suatu saya saat kita akan mendengar kalimat " you just like indonesian people, proud of strange behavior".
******
Jumat, 22 April 2011
"kampoeng halaman"
klo nabilang temanku salah satu cara tahu karakter orang yah dengan tahu daerah asal ( red kampoengnya ).
masuk akal sih! dia bilang begini
>>> masing-masin daerah itu punya karakternya sendri-sendiri n sebagian besar di pengaruhi oleh tokoh atau pahlawan daerah itu, misal makassar & goa yang kental akan sultan hasanuddinnya, bone dengan aru pallakanya,?!@@R$^%&^&( to be continued )
gara-gara bicara2 itumi ( istilah keren untuk percakapan) jadi melintaslah wajah dari kampoengkoe
Sejenak mau mengenang masa-masa dulu, waktu masih SD (kayak orang tua mi saja). Saat itu saya belum tahu yang namanya polusi, mode, pergaulan bebas, dan sejenisnya. saya cuma anak kampung yang suka berkeliaran tanpa perduli akan waktu, entah bersepeda, main layang-layang, memancing , main kelereng', ditambah dengan mencuri buah-buahan di kebunnya orang. kayak lagu steven n coconut trees " bebas lepas tanpa beban " ha...ha...ha...
jadi menghayalmi sede tentang karakter-karakter kampoeng, biasanya orang akan tahu nama kampoeng saya yah klo kita bilang phinisi "itue perahu tradisional yang terkenalka yang cuma terbuat dari kayu tapi berhasil berlayar sampai luar negeri " klo bicara tentang mata pencarian orang2 disana memang kebanyakan bertani dan nelayan (melaut). mungkin gara-gara itumi kayaknya hal yang paling berpengaruh terhadap karakter kampoengkoe (karakter pelaut sejati) nassami toh, bulukumbah ini kaue"butta panrita lopi" kayak nenek moyang kita (nkri) kan ada lagunya
Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa
Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai
masuk akal sih! dia bilang begini
>>> masing-masin daerah itu punya karakternya sendri-sendiri n sebagian besar di pengaruhi oleh tokoh atau pahlawan daerah itu, misal makassar & goa yang kental akan sultan hasanuddinnya, bone dengan aru pallakanya,?!@@R$^%&^&( to be continued )
******
Sejenak mau mengenang masa-masa dulu, waktu masih SD (kayak orang tua mi saja). Saat itu saya belum tahu yang namanya polusi, mode, pergaulan bebas, dan sejenisnya. saya cuma anak kampung yang suka berkeliaran tanpa perduli akan waktu, entah bersepeda, main layang-layang, memancing , main kelereng', ditambah dengan mencuri buah-buahan di kebunnya orang. kayak lagu steven n coconut trees " bebas lepas tanpa beban " ha...ha...ha...
jadi menghayalmi sede tentang karakter-karakter kampoeng, biasanya orang akan tahu nama kampoeng saya yah klo kita bilang phinisi "itue perahu tradisional yang terkenalka yang cuma terbuat dari kayu tapi berhasil berlayar sampai luar negeri " klo bicara tentang mata pencarian orang2 disana memang kebanyakan bertani dan nelayan (melaut). mungkin gara-gara itumi kayaknya hal yang paling berpengaruh terhadap karakter kampoengkoe (karakter pelaut sejati) nassami toh, bulukumbah ini kaue"butta panrita lopi" kayak nenek moyang kita (nkri) kan ada lagunya
******
Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa
Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai
******
22 april 2011
22 april. . .
alam angin tamalanrea
langit mendung tak berbatas
sinyal akan kegalauan
wajah alam tampak muram
22 april . . .
ini kisah tentang dia,
yang kian tak berkasih lagi,
terus bersedih, teknologi menghantui...
kini semakin sedikit yang memahamimu
mungkin kau menanti-nanti
kapan tangan ini hendak menjamahmu
22 april . . .
hari ini adalah hari istimewamu
hari yang harusnya penuh akan keceriaan
seharusnya kau bercengkrama dengan manusia
bercerita tentang keindahan alam raya
menceritakan tentang indah rumahmu
Serta senyum cinta tetanggamu
Menyatu serta dalam lingkaran alam
Serta langit tak berbataz
22 april . . .
zelamat hari bumi
walaupun hari ini kau terlihat sedih
kau tetap , masih tetap dan tetap . . .
bereaksi dan berotasi menjadi ekspresi diri
alam angin tamalanrea
langit mendung tak berbatas
sinyal akan kegalauan
wajah alam tampak muram
22 april . . .
ini kisah tentang dia,
yang kian tak berkasih lagi,
terus bersedih, teknologi menghantui...
kini semakin sedikit yang memahamimu
mungkin kau menanti-nanti
kapan tangan ini hendak menjamahmu
22 april . . .
hari ini adalah hari istimewamu
hari yang harusnya penuh akan keceriaan
seharusnya kau bercengkrama dengan manusia
bercerita tentang keindahan alam raya
menceritakan tentang indah rumahmu
Serta senyum cinta tetanggamu
Menyatu serta dalam lingkaran alam
Serta langit tak berbataz
22 april . . .
zelamat hari bumi
walaupun hari ini kau terlihat sedih
kau tetap , masih tetap dan tetap . . .
bereaksi dan berotasi menjadi ekspresi diri
Kamis, 30 Desember 2010
Langganan:
Postingan (Atom)





